Melaksanakan ibadah haji saat ini — dengan pesawat udara — hanya perlu
waktu 10 jam. Tidak demikian ketika perjalanan masih menggunakan kapal layar.
Perlu waktu berbulan-bulan, mungkin lebih setahun, dengan berbagai resiko
selama pelayaran. Dalam suasana demikian, sejak abad ke-18 orang Betawi banyak
yang pergi ke kota suci Mekah. Mereka menjalankan ibadah haji. Karena
perjalanan yang begitu sulit, setelah menunaikan rukun Islam ke-5, banyak yang
tidak kembali ke tanah air dan bermukim di Mekah
Mereka yang bermukim di sana menggunakan Al Batawi sebagai nama keluarga. Menjadi kebiasaan para pemukim
ketika itu menjadikan nama kota asalnya sebagai nama keluarga. Misalnya, Syech Abdul Somad al Falimbani dari
Palembang, Syech Arsyad Albanjari dari Banjarmasin, Syech Basuni Imran al
Sambasi dari Sambas, dan Syech Nawawi al Bantani dari Banten.
Masih dengan kapal layar, pada pertengahan abad ke-19 (1834), Syech Junaid, seorang ulama Betawi,
mulai bermukim di Mekah. Ia pun memakai nama al-Betawi. Ia amat termashur
karena menjadi imam di Masjidil Haram. Syech Junaid al Betawi, yang diakui
sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab
Syafi’ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak
sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi
menjadi termashur di tanah suci berkat Syech kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, ini.
Syech Junaid mempunyai dua orang putera dan dua orang puteri. Salah satu
puterinya menikah dengan Abdullah al
Misri, seorang ulama dari Mesir, yang makamnya terdapat di Jatipetamburan,
Jakarta Pusat. Seorang puteri lainnya menikah dengan Imam Mujitaba. Sedangkan kedua puteranya, Syech Junaid As’ad dan Arsyad, menjadi pelanjut ayahnya mengajar di Masjidil Haram. Syeh
Junaid wafat di Mekah pada 1840 dalam usia 100 tahun.
Di antara murid Syeh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih
tersebar di dunia Islam adalah Syech
Nawawi al Bantani, keturunan pendiri kerajaan Islam Banten, Maulana Hasanuddin
(putera Syarif Hidayatullah). Karenanya, setiap haul Syech Nawawi, selalu
dibacakan fatihah untuk arwah Syech
Junaid.
Imam Mujitaba, yang menetap di Mekah, menikah dengan putri Syech Junaid.
Pasangan ini menurunkan guru Marzuki,
tokoh ulama Betawi dari Cipinang Muara, Jakarta Timur. Karena alimnya, guru
Mujitaba diberi gelar waliyullah oleh masyarakat Islam di tanah suci. Menurut
budayawan Betawi, Ridwan Saidi, guru Mujitaba satu angkatan dengan mukimin
Indonesia lainnya seperti Syech Nawawi al
Bantani dan Syech Ahmad Khatib al Minangkabawi.
Sedangkan putera almarhum guru
Marzuki, yang hingga kini memiliki perguruan di Rawabunga, Jakarta Timur,
mendapat gelar birulwalidain karena begitu berhidmatnya kepada kedua orang
tuanya.
Guru Marzuki memiliki sejumlah murid yang kemudian menjadi ulama
terkemuka di Indonesia, seperti KH
Abdullah Syafi’ie dari perguruan Assyafiiyah dan KH Tohir Rohili dari perguruan Tohiriah di Bukitduri Tanjakan,
Jakarta Timur. Kedua perguruan Islam (Assyafiiyah dan Tahiriah) itu kini
berkembang pesat sekali. Keduanya memiliki sekolah mulai dari TK sampai
perguruan tinggi
KH Abdullah Sjafi’ie (wafat
3/9-1985) bersama putera-puterinuya menangani 63 lembaga pendidikan Islam.
Sedangkan masjid Al-Barkah di Kampung Bali Matraman, Jakarta Selatan, yang
dibangun pada 1933 saat kyai berusia 23 tahun, kini merupakan masjid yang
megah.
Mushola bekas kandang sapi itulah yang kemudian menjadi cikal bakal
perguruan Asyafiiyah. Kini pengajian Ahad pagi di Masjid Ak-Barkah selalu yang
diikuti ribuan jamaah. KH Abdullah Syafi’ie — perguruannya menghasilkan ribuan
orang — diantara mereka kini menjadi tokoh agama dan pimpinan majelis taklim di
berbagai tempat di Indonesia.
KH Abdullah Syafi’ie adalah figur yang mampu mengkombinasikan dua arus
besar pemikiran yang berkembang di lingkungan masyarakat Islam. Dalam diri
beliau tercermin betul warna NU dan Muhammadiyah-an. Toh beliau mampu
menjadikan diri sebagai model kombinasi yang menarik itu.
Kalau KH Abdullah Sjafii pada Pemilu 1955 berkampanye untuk partai
Masyumi. Maka, rekan seangkatannya, KH Tohir Rohili selama dua periode pernah
menjadi anggota DPR dari Partai Persatuan Pembangunan. Seperti juga KH Abdullah
Syafiie, ia mulai berdakwah keliling Jakarta dengan bersepeda. Tiap Ahad pagi,
di majelisnya yang juga merupakan kediamannya, diadakan pengajian, yang
jamaahnya cukup banyak.
Ulama Betawi, angkatan KH Abdullah Syafii dan KH Tohir Rohili, yakni Mualim Rojiun, KH Nur Ali, Bekasi, sangat ditakuti oleh Belanda karena keberaniannya
di front depan Bekas — Karawang — Purwakarta. KH Zayadi dari Klender, Mualim
Tabrani, Paseban, dan sejumlah kyai lainnya.
Ulama Betawi sesudah angkatan ini adalah KH Syafi’i Hazami, mantan ketua MUI Jakarta Raya, yang memiliki
belasan perguruan Islam di Ibukota. Kemudian KH Abdurahman Nawi, yang kini memiliki tiga buah pesantren yang
kesemuanya bernama Al-Awwabin, di Tebet, Depok I, dan Tugu (Sawawangan Depok).
Tiga pesantrennya itu memiliki ribuan santri sejak tingkat TK sampai SLTA.
Bersamaan dengan KH Abdurahman Nawi yang memiliki tiga pesantren —
sebuah di Tebet (Jakarta Selatan) dan dua di Depok — KH Abdul Rasyid AS, putera almarhum KH Abdullah Sjafii, kini juga
membangun majelis taklim di Pulau Air, Sukabumi. Di sini dia telah menghasilkan
santri-santri yang memperdalam Alquran. Termasuk belasan orang yang telah
menjadi penghafal (hafidz).
Sementara, kakaknya, Hj Tuty
Alawiyah AS, kini tengah mengembangkan Perguruan dan Universitas
Asyafiiyah, di Jatiwaringin, Jakarta Timur. KH Abdurahman Nawi sendiri
merupakan salah seorang murid KH Abdullah Sjafii. KH Abdul Rasyid kini juga
tengah menyiapkan pembangunan Universitas Islam KH Abdullah Sjafii dan rumah
sakit Islam di Sukabumi di atas tanah seluas 28 hektar.
Satu angkatan dengan kedua ulama itu adalah Habib Abdurahman Alhabsyi, putera Habib Muhammad Alhabsji dan cucu Habib
Ali Kwitang. Pada awal abad ke-20 Habib Ali mendirikan madrasah modern
dengan sistem kelas yang diberi nama Unwanul Falah. Perguruan Islam yang juga
menampung murid-murid wanita ini, sayang, terhenti pada masa proklamasi. Karena
itulah, Habib Ali yang meninggal tahun 1968 dalam usia 102 tahun dianggap
sebagai guru para ulama Betawi, banyak diantara mereka pernah belajar di
sekolahnya.
Dia adalah murid Habib Usman Bin
Yahya, yang pernah menjadi Mufti Betawi. Hampir bersamaan datang dari
Hadramaut Habib Ali bin Husein Alatas.
Dia bersama Habib Salim Bin Jindan banyak ulama Betawi yang belajar kepadanya.
Termasuk KH Abdullah Syafii, KH Tohir Rohili, dan KH Sjafii Alhazami. Yang
belakangan ini kelahiran Gang Abu, Batutulis, Jakarta Pusat. Gubernur DKI Fauzi
Bowo ketika kecil, di Batutulis, belajar agama kepadanya.
Salah seorang ulama Betawi kelahiran Matraman yang merupakan penulis
produktif adalah KH Ali Alhamidy.
Dia telah menulis tidak kurang dari 19 kitab dan buku, seperti Godaan Setan.
Menurut budayawan Betawi Ridwan Saidi, KH Ali Alhamidy setiap minggu membuat
naskah khotbah Jumat yang digunakan para khotib di masjid-masjid. Tidak hanya
di Jakarta tapi di Sumatera. Termasuk masjid-masjid ahlussunah wal jamaah,
sekalipun tulisannya lebih kental kearah Muhammadiyah. Tatkala masuk penjara
dalam Orde Lama karena kedekatannya dengan Masyumi, ia berhenti menulis. Dan,
akhirnya penguasa mengijinkan ia menulis naskah khutbah Jumat dari balik terali
penjara.
Sampai tahun 1970-an, dikenal luas nama ulama KH Habib Alwi Jamalullail, yang telah beberapa kali mendekam di
penjara, baik pada masa Orla maupun Orba, karena keberaniannya mengkritik
pemerintah, yang kala itu dianggap tabu. Perjuangannya kemudian diteruskan oleh
puteranya, Habib Idrus Djamalullail,
yang pada tahun 1995 mengajak demo alim ulama Betawi ke DPR menolak SDSB.
Keluarga Jamalullain termasuk generasi awal yang datang ke Indonesia
dari Hadramaut pada abad ke-18. Mereka banyak terdapat di Aceh. Yang Dipertuan
Agung Malaysia sekarang ini juga dari keluiarga Jamalulail.
Islamisasi di Betawi mendapatkan momentum baru tatkala Sultan Agung
melancarkan dua kali ekspedisi ke Batavia untuk menyerang VOC. Terlepas
ekspedisi ini tidak berhasil menyingkirkan penjajah Belanda, tapi dari segi
kultural, ekspedisi itu mencapai hasil yang mempesona. Para tumenggung Mataram,
setelah gagal mengusir Belanda, setelah tinggal di Jakarta, banyak menjadi
jurudakwah yang handal. Mereka telah memelopori berdirinya surau-surau di
Jakarta — yang kini menjadi masjid — seperti Masjid Kampung Sawah, Jembatan
Lima, yang didirikan pada 1717.
Salah seorang ulama besar dari kampung ini adalah guru Mansyur. Ia lahir tahun 1875. Ayahnya bernama Abdul Hamid Damiri al Betawi. Pada masa
remaja dia bermukim di Mekah. Di kota suci ini dia berguru pada sejumlah ulama
Mekah, seperti Syech Mujitaba bin Ahmad
Al Betawi. Guru Mansyur sewaktu-waktu hadir dalam majelis taklim Habib
Usman, pengarang kitab Sifat Duapuluh. Guru Mansyur menguasai ilmu falak, dan
memelopori penggbunaan ilmu hisab dalam menentukan awal Ramadhan dan hari raya
Idul Fitri serta Idul Adha di Jakarta. Dia juga merupakan penulis produktif.
Tidak kurang dari 19 kitab karangannya.
Guru Mansyur mendalami ilmu falak, karena dulu di Betawi orang
menetapkan awal Ramadhan dan lebaran dengan melihat bulan. Kepala penghulu
Betawi menugaskan dua orang pegawainya untuk melihat bulan. Jika bulan
terlihat, pegawai tadi lari ke kantornya memberi tahu kepala penghulu. Kepala
penghulu meneruskan berita ini kepada masjid terdekat. Mesjid terdekat memukul
beduk bertalu-talu tanda esok Hari Raya Idul Fitri.
Kanak-kanak yang mendengar beduk bergembira, lalu belarian ke jalan raya
sambil bernyanyi. Tetapi banyak juga orang yang tidak mendengar pemberitahuan
melalui beduk. Akibatnya, seringkali lebaran dirayakan dalam waktu berbeda.
Guru Mansyur memahami hal ini. Karena itu, ia memperdalam ilmu falak. Setiap
menjelang lebaran Guru Mansyur mengumumkan berdasarkan perhitungan ilmu hisab.
Dalam adat Betawi, guru
dipandang orang yang sangat alim dan tinggi ilmunya. Ia menguasai kitab-kitab
agama dan menguasai secara khusus keilmuan tertentu. Di atas guru ada dato’. Dia menguasai ilmu kejiwaan yang
dalam. Di bawah guru ada mualim. Di
bawah mualim adalah ustadz, pengajar
pemula agama. Di bawah ustadz ada guru
ngaji, yang mengajar anak-anak untuk mengenalk huruf Arab.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar