Dunia politik bukan hal baru bagi Rhoma Irama. Sejak awal-awal masa kariernya, Rhoma tercatat pernah bergabung dengan parpol.
Rhoma
mulai aktif di dunia politik saat Pemilu 1977. Kala itu, Rhoma
bergabung dengan partai kabah dan berhasil melambungkan PPP dengan
memperoleh kenaikan signifikan suara pemilih. Pada Pemilu 1977 dan 1982,
perolehan suara PPP naik secara signifikan. Saat menjadi juru kampanye,
Rhoma Irama mampu menyedot jutaan umat.
Bahkan,
Rhoma berhasil menggabungkan antara politik dan musik dangdut. Dalam
setiap kampanye PPP, musik dangdut ditampilkan untuk menghibur peserta
kampanye. Kampanye dengan hiburan musik dangdut dan musik-musik lain pun
hingga saat ini masih berlangsung.
Pilihan
Rhoma mendukung PPP ini berbuah pencekalan. Beberapa izin konsernya
tidak dikeluarkan oleh Pemerintahan Orde Baru kala itu karena Rhoma
dipandang sebagai ikon partai Ka'bah. Rhoma juga sempat dimusuhi oleh
pemerintah lantaran ogah menerima tawaran masuk Golongan Karya (Golkar).
Pemerintah Orde Baru juga mencekal Rhoma dan melarang Raja Dangdut tersebut tampil di TVRI selama 11 tahun, mulai tahun 1977.
Dalam
buku 'Dangdut Stories' karya Andrew M Weintraub, ketika kampanye untuk
PPP, Rhoma memelesetkan lagunya yang sangat populer ketika itu, yaitu
'Begadang'. "Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya, begadang
boleh saja, kalau ada perlunya". Pelesetannya jadi; "Menusuk boleh
menusuk, asal yang ada artinya, Menusuk boleh menusuk, Asal Kabah yang
ditusuk".
Sejak
itulah lagu-lagu Rhoma seperti Hak Azasi, Rupiah, Udang di Balik Batu,
dilarang tampil di TVRI maupun RRI. Pelarangan itu makin mencuatkan
popularitas Rhoma Irama. Dangdut pun sempat menjadi simbol perlawanan
rezim Orde Baru.
Perlawanan
Rhoma mengendor dan pada 1988, setelah 11 tahun absen dia kembali ke
TVRI, tepatnya 8 Mei 1988. Saat itu, Rhoma membawakan lagu 'Judi' yang
sampai saat ini masih masyhur.
Rhoma
makin dekat dengan kekuasaan hingga kemudian bergabung dengan Golkar.
Rhoma sempat terpilih sebagai anggota MPR mewakili utusan Golongan yakni
mewakili seniman dan artis tahun 1992. Rhoma pun aktif menjadi juru
kampanye Golkar termasuk pada Pemilu 1997.
Para
penggemar di seatero Tanah Air mencerca, menghina dan mengata-ngatai
Rhoma sebagai politikus kutu loncat. Bahkan, di beberapa wilayah di Jawa
Timur, banyak kaset Rhoma dibakar lantaran pendukung PPP di sana kecewa
atas kepindahan Rhoma ke Golkar.
Bagaimana
sikap Rhoma menghadapi tudingan serta hinaan tersebut? Pria yang
terkenal dengan sebutan 'satria bergitar' ini menjawab enteng.
"Saya
memilih Golkar Lillahi Ta'ala, yakni untuk memperjuangkan kepentingan
Islam dan umat. Saya masuk ke Golkar bukan sebagai kutu loncat.
Prosesnya sudah puluhan tahun. Cuma baru sekarang saya dengan gamblang
ikut Golkar," ungkapnya kepada wartawan saat itu seperti ditulis harian
Kompas 29 April 1997.
Wartawan
saat itu pun bertanya, apakah keputusannya masuk Golkar tidak
mempengaruhinya sebagai musisi Dangdut, Rhoma menjawab, "Saya pikir
penggemar saya akan mengerti perjuangan saya ini."
Pada
Pemilu 2009, Rhoma kembali ke PPP. Itulah yang membuat dia sempat
disebut sebagai kutu loncat karena berpindah-pindah partai politik. Tapi
hingga detik ini, Rhoma masih berada di pangkuan partai ka'bah.
Bang
Haji saat ini kembali menjadi perbincangan lantaran para ulama
mendukungnya sebagai Capres 2014. Rhoma pun menyanggupinya, asal
didukung oleh partai. Mampukah Bang Haji 'menggoyang' pentas politik di
Pilpres 2014?
sumber : merdeka.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar